Dari : Situs Alfi

kampus perjuanganku

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Sistem Informasi

My Beloved Departement

Selasa, 24 Desember 2013

OSPEK ?? TRADISI TURUN TEMURUN KAH ??

Apakah benar ospek adalah sebuah tradisi turun temurun yang harus di laksanakan ?? pertanyaan itulah yang selalu menghantui pikiran setiap mahasiswa baru. Selama ini ospek dijadikan suatu alasan ampuh yang mengatakan bahwa Osek penting adanya karena merupakan salah satu proses orientasi atau pengenalan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampusnya,namun tak jarang juga yang tetap meyelipkan kekerasan fisik dalam setiap kegiatannya.

 

 

 

Berita terbaru berasal dari  salah satu kampus dimalang  yaitu Institut Teknologi Malang (ITN) yang menewaskan salah satu mahasiswa barunya karena diduga kelelahan dalam mengikuti ospek yang dilakukan seniornya di kawasan Goa China, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, 12 Oktober 2013. Menurut pernyataan salah satu saksi yang merupakan teman Fikri, dia meninggalkan karena kelelahan setelah di hokum seniornya dan kasus ini masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

Asal mula ospek ini berasal dari Universitas Cambridge, Inggris yang kebanyakan mahasiswa barunya adalah anak orang kaya sehingga sulit untuk diatur oleh karena itu sebagai senior yang meiliki kekuasaan diberlakukan ospek supaya  tumbuh rasa hormat dan menghargai dari mahasiswa baru tersebut.

Di Indonesia telah ada sejak zaman Kolonial dulu, tepatnya STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Kemudian terus berlanjut pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942). Sekarang STOVIA dan GHS menjadi FKUI Salemba.

Sampai saat ini Ospek merupakan menu wajib yang harus disantap oleh mahasiswa baru, walaupun tidak semua kampus di Indonesia mempertahankannya, walaupun banyak kecaman mengenai ospek namun sekarang malah semakin menjalar ke tingkat pendidikan SMP dan SMA.

Jika memang dirasa pengenalan mahasiswa baru terhadap kempusnya merupakan suatu point wajib maka harus dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya sehingga dapat tercapai suatu tujaun yang sesungguhnya dan dunia pendidikan di Indonesia dapat  semakin meningkat.

sumber : http://www.kaskus.co.id


Selasa, 03 Desember 2013

Motivasi Terbesar



Bagi yang belum pernah merasakan nikmat dan indahnya berbakti kepada orang tua

Bagi yang belum maksimal berbakti kepada mereka

Ketauhilah…bahwa ternyata dalam usaha untuk melaksanakan bakti terdapat seni!

Seni bagaimana bertutur kata yang baik…mencari kata-kata yang tidak menyakiti orang tua.

Seni bagaimana membuat orang tua selalu tersenyum bahkan kalau bisa tertawa riang gembira.

Seni bagaimana menahan rasa ingin makanan dan minuman yang tersedia karena dikira orang tua juga menginginkannya.

Seni bagaimana berusaha mencari makanan dan minuman yang diinginkan oleh orang tua, meskipun terkadang harus kepanasan, kehujanan.

Seni bagaimana lebih mendahulukan mereka dibandingkan anak dan istri tanpa menelantarkan anak dan istri.

Seni bagaimana menjaga perasaan orang tua.

Seni bagaimana bersikap tawadhu’ di depan orang tua.

Seni ketika menafkahi orang tua, bagaimana kita harus lebih beriman kepada janji Allah Ta’ala dalam hal memberikan nafkah, meskipun terkadang kita dalam keadaan sulit dan kepepet.

Seni bagaimana agar orang tua tidak malu menerima pemberian kita, anaknya.






Dari sinilah akhirnya, semoga kita lebih memahami:

1- Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh seseorang lebih mendahulukan berbakti kepada orang tuanya dibandingkan berjihad ( sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari)

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ ).

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata; “Pernah seseorang mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia minta izin untuk berjihad, Lalu Beliau bertanya: “Apakah kedua orang tua masih hidup?” Orang itu menjawab:”Iya”. Beliau bersabda: “Berjihadlah dalam mengurus keduanya.” HR. Bukahri.

2- Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seseorang untuk tetap diam bersama ibunya, karena pada kedua kaki ibunya terdapat surga.

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ، أَنَّ جَاهِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ فَجِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ. قَالَ: «أَلَكَ وَالِدَةٌ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: «اذْهَبْ فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ.

Artinya: “Mu’awiyah bin Jahimah meriwayatkan bahwa Jhimah radhiyallahu ‘anhu pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: “Sungguh aku ingin berperang, dan aku datang meminta petunjuk kepada engkau?”, beliau bersabda: “Apakah kamu memiliki ibu?”, ia menjawab: “Iya”, beliau bersabda: “Pergilah dan tinggallah bersamanya, karena sesungguhnya surga pada kedua kakinya.” HR. Al Hakim, beliau berkata: “Hadits ini adalah yang shahih sanadnya dan belum disebutkan oleh kedua imam (Yaitu Imam Bukhari dan Muslim).

3- Kenapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang pemuda yang telah membuat ibunya menangis untuk kembali membuatnya tertawa.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ ( أَتَى رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي جِئْتُ أُرِيدُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَقَدْ أَتَيْتُ وَإِنَّ وَالِدَيَّ لَيَبْكِيَانِ قَالَ فَارْجِعْ إِلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا ).

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku datang ingin berjihad bersama, aku berharap wajah Allah dan kehidupan ahirat, dan aku telah datang dalam keadaan kedua orang tuaku benar-benar menangis?”, beliau menjawab: “Kalau begitu, kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka berdua tertawa sebagaimana kamu telah membuat mereka berdua menangis.” HR. Ibnu Majah, Abu Daud dan An Nasai.

sumber :

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/seni-berbakti-pada-orang-tua.html